Segitiga pola Pendidikan anak


Segitiga pola Pendidikan anak

Ketika berbicara tentang mendidik anak, kita tidak bisa lepas dari 3 hal. orang tua, lingkungan masyarakat dan juga sekolah. Keterkaitan ketiga hal ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan anak. Jadi sebuah pola pendidikan yang baik harus bisa terbentuk dari tiga hal tersebut.

Anak yang dalam hal ini menjadi objek dari pendidikan pada dasarnya memiliki fitrah yang baik. Memiliki kemampuan yang relative sama. Tetapi terkadang kita temui kejadian dimana sama-sama anak yang dibesarkan dilingkungan petani, tetapi memiliki kemampuan akademik, sikap maupun pola pikir yang berbeda.

Ketika seorang anak di sekolah mendapatkan hasil pelajaran yang kurang memuaskan. Orang tua dengan serta merta menyalahkan sekolahan maupun guru yang bersangkutan. Sekolah tidak bermutu ataupun gurunya yang tidak becus mengajar. Hal seperti ini tidak semuanya benar. Hasil pendidikan anak tidak hanya di pengaruhi oleh sekolah maupun perlakuan guru. Pendidikan adalah serangkaian proses yang terus menerus dan tidak hanya dibatasi oleh tembok sekolah. Ketika anak pulang kerumah proses pendidikan akan tetap berlanjut. Tentunya sangat sulit jika beban pendidikan di luar jam sekolah harus juga di tanggng oleh sekolah. Dan bahkan itu tidak mungkin.

Disinilah peran orang tua dan lingkungan masyarakat berperan dalam pendidikan seorang anak. Saat di sekolah selama kurang lebih 7 jam anak mendapatkan perhatian dan pendidikan dari guru-gurunya disekolah, tetapi ketika dia keluar dari sekolah siapakah yang akan bertanggung jawab dengan kelanjutan proses belajarnya? Tentunya Orang tua menjadi titik sentral pendidikan anak di luar jam sekolah. Begitu juga dengan lingkungan pergaulannya.

Kecenderungan yang terjadi adalah ketika masih kecil perhatian orang tua dalam hal pendidikan sangat besar. Tidak hanya bagaimana si anak bisa baca tulis tetapi juga etika dalam berkehidupan. Tetapi jika kita lihat setelah anak beranjak SMP maupun SMA orang tua berubah pemikiran dimana perhatian untuk anak di lihat dari segi pemenuhan materi saja. Anak dimasukkan ke sekolah favorit dianggap adalah jalan yang teraik. Orang tua berharap jika anaknya sekolah di sekolah favorit tentunya pendidikannya sudah pasti bagus. Tetapi banyak terjadi justru sebaliknya, anak justru menjadi pembangkang, pemalas dan lain sebagainya. Apakah pendidikan si sekolah tidak baik? Belum tentu. Karena dari beerapa kasus, anak-anak yang bermasalah seperti ini bukan karena penidikan di sekolahnya yang salah. Kalau pendidikan di sekolahnya yang salah tentunya semua anak akan mengalami hal yang sama, tetapi kenyataannya tidak demikian.

Anak yang bermasalah di sekolah biasanya juga mengalami hal yang sama di rumah. Jika dari keluarga ekonomi yang kurang mampu biasanya terjadi adalah karena kurang perhatiannya orang tua terhadap pendidikan anak. Orang tua lebih focus terhadap pemenuhan ekonomi untuk keluarganya, sehingga kontroling pendidikan anak di luar sekolah sangat kurang. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin bukannya orang tua tidak perhatian kepada pendidikan anak tetapi karena waktu dan tenaganya habis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk di dalamnya menyekolahkan anaknya sehingga tidak memiliki waktu untuk mengontrol pendidikan anak.

Lain halnya dengan anak yang bisa di bilang dari keluarga yang mampu, kasus anak bermasalah bisa terjadi karena orang tua menganggap fasilitas yang diberikan kepada anak adalah segalanya. Itu adalah bentuk pendidikan yang diterapkan kepada anak. Semua keinginan anaknya diberikan tanpa melihat manfaatnya, sehingga anak di rumah menjadi manja dan egois. Sedangkan jika anak di sekolah kebiasaan semaunya sendiri di rumah terbawa ke lingkungan sekolah yang mengakibatkan anak menjadi sok jagoan, paling kaya, semua temannya harus menurut kepadanya dan suka mencari perhatian baik dari pihak guru maupun kawannya, padahal itu adalah pelampiasan apa yang dia tidak dapat di rumahnya yang mewah.

Beberap hal di atas hanyalah contoh, dimana yang menjadi titik tekan dari semuanya adalah pendidikan seorang anak tidak bisa hanya dibebankan  kepada sekolah tetapi juga perlu dukungan dari orang tua dan juga lingkungan masyarakat. Sebagus apapun sekolahnya ketika tidak di dorong oleh perhatian orang tua dan masyarakat maka kemungkinan anak bermaslah akan tetap besar.

Pendidikan anak adalah proses pendewasaan sehingga suatu proses itu tidak bisa di putus hanya di sekolah, di keluarga atau hanya di masyarakat saja. Tetapi ketiga komponen tersebut adalah satu kesatuan yang utuh dalam membentuk karakter pendidikan dari seorang anak. Segitiga pola pendidikan anak tersebut haruslah bersinergi sehingga terbentuklah karakter-karakter anak yang kuat dalam menjalani kehidupannya.

ini adalah sebuah pemikiran… yang semoga bisa menjadi sebuah wacana untuk kita semua

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s